Selasa, 19 Desember 2017

Anak Yahudi di Hutan Polandia


Resensi Buku “Hansel and Gretel”

Judul buku    :The True Story of Hansel and Gretel  
Penulis               : Louise Murphy 
Penerbit           : Gramedia 
Cetakan          : Pertama, 2010 
Tebal                   : 487 halaman



Polandia memang menjadi salah satu dari sekian negara yang menjadi saksi kejam NAZI pada Perang Dunia II. Tak peduli apakah itu anak – anak, Lansia yang sudah tak mampu lagi berjalan dan mengingat bahkan bayi yang baru lahirpun tak akan pernah luput dari incaran NAZI selama mereka disinyalir berdarah Yahudi. Adalah dua orang kakak beradik, yang nama aslinya diganti menjadi Hansel dan Gretel oleh orang tuanya untuk menghilangkan jejak ke-Yahudian mereka, dibuang di hutan yang lebat di Polandia, mereka dengan sekuat tenaga bertahan hidup melawan dinginnya hutan yang tak memiliki ampunan dan dari kejaran NAZI yang haus akan buruan. The True Story of Hansel and Gretel ini dengan jelas menceritakan bagaimana peperangan berpengaruh pada kehidupan keluarga, terutama pada diri anak – anak. 

Senin, 18 Desember 2017

Wat Arun



Ku cari kamu,
Pada setiap celah pagoda
di Burma, di Kambodia
Hingga seberang Chao Phraya



Ku tersipu,
Ternyata di Bangkok hanya menyimpan namamu
Pada benak metafora para Biksu,
Atau pada dinding Wat Arun itu.
Wrekudara-ku .


Bangkok, 25 Juli 2017
Wiretno Sikiwir


Suatu Hari


Suatu hari
aku ingin pergi dan tak meninggalkan jejak di raut ingatanmu,
atau air mata yang membuatmu menyesali kehilangan yang berkali-kali

Suatu hari,
Aku ingin pergi tanpa sepatah kata, tanpa puisi yang kau baca tiap pagi
juga tanpa nyeri saat angin malam masuk ke pori-pori

Suatu hari,
aku ingin kita berpapasan dan tak saling mengenali


Suatu hari di Kuala Lumpur,
Juli 2017
Wiretno

Jejak Sikiwir (1)

Suka Ikut Konferensi Ilmiah & Lawatan Sejarah 

Wiretno, wisudawan terbaik S-1 FIB UNAIR (http://news.unair.ac.id)


UNAIR NEWS – Seorang anak penjahit bernama Wiretno berhasil “terbang” ke penjuru dunia demi mengharumkan nama bangsa. Dalam lawatannya ke luar negeri, ia mempresentasikan berbagai karya ilmiahnya di hadapan masyarakat akademis.

Tahun 2015, ia mempresentasikan gagasannya di Korea Selatan tentang penggunaan aliran dana remitansi para tenaga kerja wanita. Mengusung karya ilmiah berjudul “Indonesian Migrant Workers in South Korea Study of Remmittance and Lifestyle”, Wiretno sapaan akrabnya, berhasil masuk lima besar terbaik serta mendapatkan penghargaan dari Indonesian Student Society in South Korea pada kategori humanities.

Satu Bulan Sejak Bapak Pergi



Surabaya, 18 Desember 2017
Berkisah, Bersedih, Bahagia.

Hari ini, genap satu bulan Bapak meninggalkan kami. Figur seorang Bapak yang selalu aku banggakan. Entahlah, aku mesti mbrebes mili pas nulis apapun tentangnya. But I have to not to cry, like he said. And I’m promise to be stronger than before. Yap. Siapa yang menyangka aku bakal kehilangan lelaki yang paling ku cintai di penghujung 21 tahunku. 

Rasanya, masih terlalu banyak hal yang harus aku bagi dengan Bapak. Masih banyak cerita yang belum ku ceritakan pada Bapak. Masih terlalu banyak perjalanan yang ingin ku habiskan bersama Bapak.
Tentang betapa kuatnya Bapak melawan si pembunuh nomor satu, kanker.

Pripun kabare, pak?
Allah lebih sayang Bapak. Mengangkat sakitmu, dan menggantinya dengan surga.

Perjalanan (pulang)


Banyak yang kosong dalam setiap perjalananku setelah sebulan kepergian Bapak. Kini tak ada lagi yang menanti cerita-ceritaku dengan sangat antusias. Lalu membullyku, dan juga menertawakanku. Ah. Iya. Semua orang tahu bahwa Bapak adalah orang yang sangat humoris. Pribadi yang sangat ekspresif saat bercerita maupun saat menjadi pendengar. Saat Bapak sakit kemarin, Sabtu adalah hari yang selalu aku tunggu. Meskipun aku selalu menggerutu dan cemas saat bis atau kereta tak segera berangkat melaju. Aku membenci setiap kendaraan ini berhenti. Aku ingin segera sampai di Kediri. Aku ingin pulang. Aku ingin segera bertemu Bapak. 

Rasanya ingin segera sampai rumah saat kereta atau bis mengantar perjalananku. Karena aku tahu, waktuku untuk bergurau bersama Bapak sudah tidak banyak. Waktuku untuk bercerita dengan Bapak tidak banyak. Aku hanya memiliki waktu kurang dari 12 jam dalam seminggu untuk menemani Bapak. Untuk bercerita dengannya, juga bergurau dengannya. Tuntutan pekerjaan yang memaksaku kembali ke Surabaya segera.

Awal kedatangan Etnis Tionghoa di Malaysia

Malaysia yang dulunya bernama Malaya, merdeka pada tanggal 31 Agustus 1957, setelah sebelumnya dikuasai Inggris. Di Malaysia sendiri hidup...